RINAI
(Karya: lestari widyaningsih)
Pagi
ini tak seperti biasanya. Tak ada lagi suara celotehan dari mama. Tangisan lucu
adik dan deruman motor butut papa. Ketukan pintu membuyarkan lamunan bodoh
ini. Aku bangkit dari tempat tidurku.
“Siapa
sih pagi-pagi begini?” gumamku dalam hati. Dengan malas aku membuka pintu itu.
Mataku membelalak ketika membuka pintu tampak seorang gadis dengan rambut hitam
panjang. Kami berdua hanya terdiam. Namun
dia menatapku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Selang beberapa
menit aku mulai bicara.
“Siapa
kamu? Mau ngapain kamu kesini?” dengusku. Gadis itu hanya terdiam dan tersenyum
kepadaku.
“Cepetan
dong. Aku banyak urusan nih. Pengganggu!” tanyaku lagi. Gadis itu tetap terdiam
bisu. Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu aku membanting pintu dengan keras.
Gadis itu tersentak kaget.
@@@
Pagi
ini cerah tak seperti hatiku. Aku mengayuh sepedaku tanpa bertenaga. Perasaanku seperti ada yang
mengikutiku dari belakang. Ketika aku menoleh, gadis itu sudah ada di belakangku
dengan wajah tersenyum seperti biasa. Aku mendengus kesal lalu aku menambah
kecepatan sepedaku. Ketika aku sampai sekolah, aku masuk ke area parkir untuk
meletakkan sepedaku.
Ketika
aku mau masuk kelas, gadis itu berdiri di depanku. Aku tersentak kaget.
“Kamu
lagi!!! Ada urusan apa sih sama aku? aku punya salah apa sama kamu
sampai-sampai kamu ngikutin aku terus!!!” bentakku di depannya. Namun gadis itu
hanya senyum tanpa respon. Aku masuk ke kelas tanpa menunggu jawaban darinya.
“Kenapa
sih pagi-pagi udah marah nggak jelas?” Tanya Andi
“Tak apa lah” jawabku. Andi
hanya mengangkat alis mendengar jawabanku. Pelajaran dimulai. Selama pelajaran
aku tidak konsentrasi dengan apa yang ada di depanku. Yahh!! Memikirkan gadis
kepang dua tadi pagi. pelajaran telah usai.
@@@
Sepulang sekolah ketika aku
mengambil sepeda di tempat parkir sekilas aku melihat sepucuk kertas merah di
sepedaku. Sebenarnya aku mau membukanya namun kuurungkan niatku itu.
Sesampai di rumah dengan
segera ku buka kertas itu.
Untuk: Kak Rey
Hai kak? Apa kabar? Masih
inget denganku? Gadis kepang dua yang selalu mengikuti kakak.
Kakak masih bingung
kenapa aku selalu ngikutin kakak? Jawabannya besok kalo kakak udah bls suratku.
Salam
Rinai
Aku harus segera
membalasnya. Ku ambil sepucuk kertas dengan warna yang sama. Kumainkan penaku
dengan cepat. Kutulis apa yang ada di pikiranku saat ini. Bingung, resah, cemas
campur jadi satu. Sepanjang ku menulis teringat kejadian tadi pagi.
Untuk: Rinai
Baik. Ya inget, gadis
yang selalu mengikutiku tiap saat. Ya sungguh aku bingung, apa salahku
sebenarnya denganmu? Dan apa motif kamu ngikutin aku tiap hari? Bls cepat.
Rey
Setelah selesai ku balas
surat itu, aku duduk di taman rumah. Aku kembali menatap langit.
Matahari
hampir tenggelam. Kembali ke peraduannya, untuk kembali lagi esok pagi. Aku
menghembuskan napas panjang. Entah berapa lama aku
akan
duduk di sini. Menunggu itu sesuatu yang membosankan. Ya!!! Sangat membosankan!!!
Petang berganti malam. Namun
tak mengubah suasana hatiku. Suasana gundah tak hilang sedikitpun. Sampai-sampai
aku tak bisa tidur semalaman.
@@@
Kring!!! Kring!! Bunyi alarm
membangunkanku dari mimpi dan baru 1 jam yang lalu aku bisa terlelap. Mataku terasa
berat saat ku membukanya. Teringat sepucuk surat kemarin, sesegera mungkin aku bangun
dan persiapan untuk pergi ke sekolah. Ku lakukan dengan cepat. Tak lupa dengan
sepucuk surat untuk diletakkan di sepedaku. Aku berangkat dan mulai mengayuh
sepeda dengan sekuat tenaga. Sesekali ku menengok ke belakang apakah hari ini dia
juga ngikutin aku lagi. Ternyata tidak, dia tidak ngikutin aku hari ini. Kenapa?
Hari ini aku terlalu bersemangat namun semangatku lenyap seketika.
Sampai di sekolah ku
letakkan sepedaku di tempat parkir. Berharap gadis itu tau kalo aku udah
membalas suratnya.
Sesegera mungkin aku masuk
ke kelas. Selama pelajaran berlangsung aku hanya terpikir dengan sepucuk surat
merah itu. Tak terasa pelajaran telah usai. aku berlari menuju tempat parkir.ku
lihat dari kejauhan kertas itu masih sama seperti kertas yang ku bawa. Terpikir
olehku kalau gadis itu tidak masuk sekolah.
Aku membuka surat merah
itu. Ternyata itu surat balasan dari gadis kepang dua.
Untuk: Kak Rey
Kak, aku Rinai. Gadis yang
bertabrakan di depan kelas saat itu. aku minta maaf kalau aku punya banyak
salah sama kakak. Aku hanya ingin ngomong kalau aku ngikutin kakak karena aku
nggak ingin kakak minum obat-obatan yang terlarang. Biarpun kakak frustasi
kakak nggak boleh lakuin itu lagi. Karena aku udah ngrasain sakitnya minum obat
yang berlebihan. Aku terkena kanker darah dan harus setiap saat minum obat. Dan
itu sakit banget rasanya. Aku nggak ingin kakak seperti aku.
Salam terakhirku
Rinai
Dheggggggg!!!! Aku terpaku
ketika membaca surat itu. Aku hanya bisa mengelus dada. Mataku nanar dan
berkaca-kaca. Ternyata aku salah. Aku salah menilai orang. Tak kusangka dia
memperhatikanku walau bukan anggota keluargaku. Aku menyesal kemarin aku telah
marah, membentaknya. Ternyata dia peduli kepadaku. Sekarang aku hanya menyesal,
menyesal, dan menyesal.
@@@
Mulai saat ini aku mengubah
semua kebiasaan burukku. Karena ada orang yang mau peduli kepadaku.
Langit cerah seperti
hatiku. Karena hanya ada kesegaran dari kehidupan setiap hariku.